Buku, Buku, Buku!

verba volant scripta manent ~ yang diucapkan dengan kata akan lenyap, yang dituliskan akan tetap berlaku

My Photo
Name: Budi Saraswati
Location: Pondok Bintaro, Ciputat, Tangerang 15412, Indonesia

Born and raised in Jakarta, I wonder when, where and how this journey end? .. and how will I reborn again?

Sunday, May 24, 2009

Kunci Rahasia George ke Alam Semesta

Judul asli: George's Secret Key to the Universe
Penulis: Lucy & Stephen Hawking dengan Christophe Galfard
Ilustrasi: Garry Parsons
Alih bahasa: Andang H. Sutopo
Editor: Widi Lugina
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan I: Mei 2009

Ingin berpetualang seru ke ruang angkasa sambil belajar mengenai alam semesta? Ikuti kisah George dengan tetangga misteriusnya Annie dan Eric--ayah Annie--, serta komputer canggih Cosmos.

Sambil mengikuti kisah seru, pembaca juga diberi informasi tentang bintang, bulan, planet, exoplanet, komet, tata surya, lubang hitam. Juga ada pertanyaan: apakah kita memusatkan perhatian untuk memperbaiki kehidupan di bumi dan menghadapi masalah-masalah bumi, atau haruskah kita berusaha menemukan planet lain yang bisa dihuni umat manusia?

Buku ini dilengkapi dengan foto-foto berwarna yang menakjubkan mengenai bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya serta kotak-kotak informasi, yang menambah nilai buku ini. Buku juga dipenuhi ilustrasi dari kisah George sehingga menyiratkan bahwa buku ini untuk anak-anak, padahal di cover belakang khusus disebutkan bahwa buku ini untuk semua umur.

Mungkin ini kesan saya saja: menurut saya, gambar George di ilustrasi buku koq seperti Pangeran Kecil di Le Petit Prince (lebih-lebih kalau George sedang pakai syal), dan gambar Pak Eric mengingatkan saya pada ayahnya Dennis di komik Dennis the Menace (karena kacamata kotak?). Hmm, tidak penting ya? Yang jelas, setelah membaca buku ini saya jadi hapal nama-nama planet di sistem tata surya kita, yaitu: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus.

Betapa alam semesta sangat menakjubkan! ... "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, ..." (sebagian dari s. Ali 'Imraan : 191).

Friday, May 22, 2009

Tumbuh di Tengah Badai

Penulis: Herniwatty Moechiam
Penyunting: Gunawan B.S.
Penerbit: Bentang, Cetakan I: April 2009

Dari sampul depan dan belakang buku ini, sudah bisa terdeteksi bahwa buku ini menceritakan perjuangan seorang ibu dan anak autistiknya dalam meraih suatu kemampuan diikuti kemampuan lainnya. Kemampuan yang mudah dikuasai oleh seorang individu normal seringkali sulit dikuasai oleh individu yang autistik.

Belum lagi indera individu autistik sering sangat sensitif terhadap sesuatu (berbeda-besa pada setiap individu) sampai-sampai yang bersangkutan menjadi sangat terganggu (mungkin seperti ter-iritasi). Catra, individu autistik di buku ini, menjadi rewel jika dipakaikan diapers, pakaian tertentu, topi, atau sepatu. Catra bisa terperanjat dan menangis ketakutan mendengar suara orang bersin, tangisan anak lain, tawa yang keras, suara berdecit, dering telepon, dan banyak suara lainnya. Padahal kondisi yang normal tapi mengganggu dan tidak nyaman bagi individu autistik ini sering ditemui di tempat terapi atau di sekolah sehingga mengganggu kegiatan belajar.

Di sisi lain, Catra yang masih bayi sangat tertarik mendengar suara azan dan kemudian segala sesuatu yang bernuansa Islam, seperti mesjid, huruf Arab, perlengkapan shalat.

Permasalahan yang tak henti-hentinya dalam membesarkan anak autistik dan 2 orang kakaknya masih ditambah dengan pertengkaran dan pertikaian yang sering terjadi dengan suami. Ibu Herniwatty, penulis buku ini, juga "mengajari" guru-guru dan teman-teman anaknya mengenai individu autistik. Benar-benar perjalanan panjang yang tidak mudah dan melelahkan yang dinamakannya "Sekolah Kehidupan".

Perjalanan yang bagi Catra seperti tersandung di setiap langkah. Meskipun tentu saja ada langkah-langkah yang menggembirakan, antara lain ketika Catra mendapat giliran membawakan kultum dan menyitir salah satu surat mengenai pertolongan Allah yang dikaitkannya dengan kesulitan-kesulitannya sebagai individu autistik. Ketika membaca buku ini sering tanpa disadari kita (pembaca) jadi berucap, "Subhanallah" dan meneteskan air mata. Kini Catra kuliah di UGM, belajar menapaki jalan hidupnya sendiri.

Berbagi pengalaman dengan menulis buku pasti tidak mudah karena seperti membeberkan kehidupan sendiri kepada khalayak ramai dan juga seperti mengoyak luka lama. Tetapi pelajaran yang diberikan buku ini sangat banyak. Apalagi buku ini dituturkan dengan sangat baik. Apa yang dipelajari Ibu Herniwatty di "Sekolah Kehidupan" menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi siapapun karena sesungguhnya setiap orang berada di sekolah yang sama. Terima kasih banyak Ibu Herniwatty dan keluarga yang sudah berbagi melalui buku ini.

Buku lain tentang berbagi pengalaman membesarkan anak autistik: Dyah Puspita, "Untaian Duka Taburan Mutiara".

Tuesday, April 21, 2009

Panggil aku Kartini saja

Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Kata Sambutan: Ny. DR. Hurustiati Subandrio
Epilog: Ruth Indiah Rahayu/Yayasan Kalyanamitra
Penerbit: Hasta Mitra
Cetakan II, 2000 (Cetakan I jilid I dan II terpisah: 1962, Cetakan I jilid I dan II gabungan: 1997)

Buku "panggil aku Kartini saja" sebenarnya masih ada kelanjutannya (jilid III dan IV) tetapi naskah tersebut hilang di tahun 1965. Jadi apa yang terekam atau tergambarkan di sini mengenai Kartini hanya sebagian dari apa yang akan diungkapkan oleh Pram.

Pram mengawali buku ini saat Perang Jawa (Diponegoro) berakhir. Perang yang paling mahal dalam sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Pemerintah Belanda meminjamkan hutang kepada Hindia Belanda sebesar ƒ 37 juta ditambah bunga. Nilai uang jatuh dan Javasche Bank yang baru didirikan menghadapi kebangkrutan. Muncullah Johannes van den Bosch mengusulkan cultuurstelsel untuk mengisi kas Hindia-Belanda. Cultuurstelsel yang pada kenyataannya menjadi tanam paksa kemudian menghisap bumi dan rakyat Hindia Belanda. Untuk pertama kali pemerintah Hindia Belanda mempergunakan kekuasaannya dan "kewibawaannya atas penduduk dijadikannya alat untuk mengeksploitasikan Jawa pada waktu itu secara modern" (halaman 12). Petani-petani pribumi menjadi terlalu miskin dan bahkan terusir dari tanah garapannya yang berubah menjadi perkebunan partikelir (swasta).

Kemudian muncul golongan liberal seperti Multatuli, E.S.W. Roorda van Eisinga, Dr. Ds. Baron ban Hoëvell yang menghendaki kelongaran dari cara memerintah Pribumi. Mereka menghendaki pendidikan yang lebih banyak lagi bagi para amtenar, Eropa, dan Pribumi. Tingkat pengajaran dan pendidikan pada waktu itu sangat rendah di kalangan penduduk bangsa Eropa, apalagi di kalangan Pribumi. Yang ada hanya sekolah-sekolah Nasrani yang tidak jauh berbeda dengan pengajaran di surau-surau. Sekolah Belanda Gubernemen pertama didirikan di Weltevreden (tahun ?). Baru dua tahun kemudian sekolah tersebut terbuka bagi sejumlah kecil Pribumi pilihan, bahkan anak bupati pun masih sulit mendapatkan bangku.

Seolah Bumiputra atau sekolah Melayu gubernemen mulai didirikan tahun 1849 di Jepara, Pasuruhan, dan Padang. Di Makasar dan Maros tahun 1853, di Banjarmasin tahun 1863, di Ambon tahun 1607. Waktu itu bahasa Belanda merupakan satu-satunya bahasa ilmu pengetahuan. Pada tahun 1902 di seluruh Jawa dan Madura hanya ada 4 orang bupati yang pandai menulis dan berbicara bahasa Belanda; salah satunya adalah ayah Kartini. Di luar para bupati ada satu-dua orang yang maju, misalnya Raden Saleh.

Dengan latar belakang inilah Kartini lahir dan besar. Kartini lahir di Jepara, 21 April 1879. Beliau termasuk orang Indonesia yang beruntung pada zamannya. Karena kedudukan ayahnya, Kartini dapat mengenyam pendidikan formal di sekolah, meskipun hanya sampai pada tingkat dasar, karena setelah itu Kartini masuk dalam pingitan. Kartini sendiri sebenarnya ingin melanjutkan sekolah, bahkan kalau perlu ke negeri Belanda, tetapi sayang ayahnya tidak mengijinkan. Pada awal berdirinya sekolah-sekolah di Hindia Belanda, hanya anak-anak dari keluarga ningrat/bergelar saja yang bisa masuk sekolah. (THS, cikal bakalnya ITB, pun tidak terkecuali; mahasiswanya adalah siswa-siswa yang memiliki gelar, termasuk Soekarno yang memiliki gelar "Raden", kalau tidak salah.)

Dalam masa pingitan, Kartini melakukan hal-hal yang disukainya seperti membatik, melukis, membaca, dan juga belajar bahasa Prancis. Ayahnya yang membuka kesempatan bagi Kartini dan saudari-saudarinya untuk melihat dunia luar (ke Batavia, mengunjungi kapal "Sumatera" di pelabuhan, memberi bacaan) sekaligus mempunyai hak veto atas putri-putrinya yang berhak mengatakan "tidak" atas kehendak para putri ini.

Kartini pandai berbahasa Belanda, baik lisan maupun tulisan, dan sudah terkenal di kalangan orang Belanda dan Indonesia tentang bahasa Belandanya yang baik. Bahkan di masa hidupnya, surat-suratnya ingin diterbitkan oleh Mr. Abendanon, tetapi Kartini menolak. Beliau sadar bahwa seorang putri Jawa yang bisa berbahasa Belanda dengan baik adalah istimewa. Kartini tidak mau diistimewakan. Beliau merasa sebagai bagian dari rakyat dan memang beliau sendiri yang mengucapkan, "Panggil aku Kartini saja - itulah namaku". Pikiran Kartini berkisar pada rakyat, keseniannya, penyakitnya, pendidikannya, perempuannya, perlakuan yang diterima rakyat, dan lain-lain. Dan semua itu disampaikan dalam bahasa Belanda yang runut. Kartini juga pernah diminta untuk menulis di majalah. Menulis menjadi jalan keluar bagi Kartini untuk mengeluarkan isi hati dan pikirannya. Andaikan Kartini hidup lebih lama lagi, tentu tulisan-tulisannya akan lebih banyak lagi.

Meskipun hanya berpendidikan SD, lingkup pemikiran Kartini meluas melampaui lingkungan kamar dan rumahnya. Sebagai salah satu orang yang terkemuka di zamannya, melalui surat-suratnya ke orang Belanda (dalam bahasa Belanda) Kartini menjadi corong kondisi rakyat Hindia Belanda. Sayang sekali, ayahnya yang bertindak sebagai pembuka gerbang kesempatan bagi Kartini untuk mengecap dunia luar adalah sekaligus penutup gerbang tersebut. Wikipedia menyebutkan Kartini dinikahkan dengan Bupati Rembang yang sudah memiliki tiga istri. Kartini wafat pada usia 25 tahun beberapa hari setelah melahirkan putra pertamanya (September 1904).

Himpunan surat-surat Kartini diterbitkan tahun 1911 dengan judul "Door Duisternis tot Licht". Pada tahun 1923 buku ini telah mengalami cetak ulang ke-4. Terjemahan bahasa Melayu (tahun ?) "Habis Gelap Terbitlah Terang" dilakukan oleh Baginda Abdoellah Dahlan dan Baginda Zainoedin Rasad, dan pada penerbitan selanjutnya dibantu Soetan Moehammad Zain serta Baginda Djamaloedin Rasad. Pada cetakan ke-3 (1951) mencantumkan nama Armijn Pane sebagai penerjemah (halaman 215).

disunting ulang dari panggil aku Kartini saja

Monday, December 15, 2008

The Divine Message of the DNA - Tuhan dalam Gen Kita

Judul asli: Inochi no Angou
Terjemahan Indonesia diambil dari edisi Inggris: The Divine Code of Life: Awaken Your Genes & Discover Hidden Talents (2006)

Penulis: Kazuo Murakami, Ph.D.
Penerjemah: Winny Prasetyowati
Penyunting: Andityas Prabantoro
Proofreader: Eti Rohaeti
Penerbit terjemahan Indonesia: Mizan, Cetakan V: April 2008 (Cetakan I: Maret 2007)

Gen atau DNA (deoxyribonucleic acid) berisi semua informasi yang diperlukan untuk membentuk kehidupan. Gen menentukan fungsi dari sel dan terdapat di nukleus sel makhluk hidup. Kode genetik adalah kumpulan instruksi untuk membentuk protein. Protein bersama dengan air adalah salah satu zat terpenting dalam tubuh kita. Protein juga ditemukan dalam enzim-enzim yang penting untuk reaksi-reaksi kimia yang berlangsung dalam tubuh kita. Dengan kata lain, protein adalah dasar dari fenomena yang kita sebut sebagai kehidupan.

Struktur DNA ditemukan pada tahun 1953 dan sekarang kita dapat membaca cetak biru yang tertulis pada DNA--kode genetik dari bakteri, hewan, dan bahkan manusia. Kode genetik manusia tersusun dari lebih dari tiga milliar "huruf-huruf kimia' yang tersimpan dalam untai-untai mikroskopik yang memiliki berat hanya satu per 200 miliar gram dan lebar hanya 1/500.000 milimeter, namun jika direnggangkan memiliki panjang sekitar tiga meter. Wow.. betapa kecilnya!

Walaupun gen diperlengkapi dengan begitu banyak informasi, namun tidak seluruh informasi itu digunakan. Gen dalam nukleus ditranskripsikan kepada setiap RNA (ribonucleic acid) bila diperlukan. RNA dalam sel dengan segera diterjemahkan menjadi protein dan enzim, yang merupakan zat-zat paling penting bagi aktivitas sel. Namun, pada saat yang sama, mereka juga mencegah dibacanya informasi yang tidak perlu. Seperti mekanisme nyala padam pada peralatan listrik. Berdasarkan penemuan ini, penulis buku ini--Kazuo Murakami, Ph.D., ahli genetika terkemuka di dunia, pemenang Max Planck Research Award (1990) dan Japan Academy Prize (1996)-- meyakini bahwa kita dapat mengaktifkan gen-gen kita yang bermanfaat dan menjadikan mereka berguna bagi kita, dan sebaliknya menonaktifkan gen-gen yang tidak bermanfaat.

Ada tiga faktor yang terlibat dalam aktivasi gen, yaitu gen itu sendiri, lingkungan, dan pikiran. Banyak orang percaya bahwa ciri-ciri yang diwariskan tidak pernah berubah. Sesuatu kemampuan (misal: kecerdasan atau atletik) memang berkaitan dengan gen. Namun tidak berarti bahwa seseorang sama sekali tidak memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan itu ada tetapi belum dinyalakan. Jika kita menghilangkan semua hambatan dan menyediakan lingkungan yang sesuai, maka potensi kita untuk berkembang akan tidak terbatas. Kemudian, berpikir positif--teruatama ketika mengalami kesulitan atau mengalami saat-saat buruk-- dapat menyalakan gen, merangsang otak dan tubuh untuk memproduksi hormon yang bermanfaat. Hal ini berarti mengembangkan kemampuan untuk mencari makna bahkan dalam kesulitan yang paling buruk, untuk memandang apa yang terjadi pada kita sebagai sebuah pesan atau hadiah. Segala sesuatu yang terjadi kepada kita memang perlu terjadi, baik maupun buruk.

Di buku ini juga ditulis mengenai teori lain mengenai evolusi yang diajukan Lynn Margulis pada era 1960-an, yang dikenal sebagai Teori Endosimbiotik. Berbeda dengan teori evolusi Darwin, bahwa kita berevolusi melalui seleksi alam dan mutasi dan hanya yang paling layaklah yang dapat bertahan, Teori Endosimbiotik didasarkan pada ide bahwa kehidupan berevolusi melalui kerja sama mutualisme. Proses evolusi dimulai dari organisme bersel satu tanpa nukleus. Penggabungan antara beberapa sel sederhana atau bagian sel yang bekerja bersama untuk membentuk jenis sel baru membawa evolusi ke tingkatan berikutnya, yaitu sel yang memiliki nukleus.

Motoo Kimura, seorang ahli genetik yang terkenal dengan teori evolusi netral, menyatakan bahwa kemungkinan sesosok makhluk hidup dapat dilahirkan sama dengan kemungkinan satu orang memenangi lotre $100 juta berturut-turut selama satu juta kali. Bahwa kita lahir saja adalah suatu prestasi yang ajaib! (yang karenanya harus disyukuri)

Selama puluhan tahun meneliti gen yang sangat mikro, Kazuo Murakami yakin bahwa kode genetik tidak terjadi secara kebetulan, bahwa ada yang menuliskan cetak biru tersebut. Kazuo Murakami memiliki tiga saran yang dianggapnya sangat berguna dalam hidupnya. Saran-saran tersebut adalah (1) miliki niat yang mulia, (2) hidup dengan rasa terima kasih, dan (3) berpikir positif.

Tuesday, December 09, 2008

Maryamah Karpov

Penulis: Andrea Hirata
Penyunting: Imam Risdiyanto
Perancang sampul: Andreas Kusumahadi
Ilustrasi isi: Yudi Irawan
Pemeriksa aksara: Ifah Nurjany, Oktaviani
Penata aksara: Iyan Wb.
Penerbit: Bentang, cetakan I: November 2008

Akhirnya..., terbit juga! Setelah diberitakan akan terbit September 2008, ternyata Maryamah Karpov akhirnya terbit pada akhir November 2008 yang lalu.

Masih seru, masih ada lucu-lucunya, dan masih sangat percaya pada kekuatan mimpi. Apakah kekuatan mimpi ini membuktikan "law of attraction"? Jika kita mendambakan sesuatu, berikhtiarlah sekuat tenaga dan pikiran. Pada akhirnya, akan ada jalan yang terbuka, dan tangan-tangan yang terulur siap membantu mewujudkan mimpi itu. Tapi, apakah ini berlaku untuk semua mimpi?

Sebagian besar dari Maryamah Karpov bercerita tentang kehidupan Ikal di kampung halamannya--Belitong-- setelah lepas dari hidup bermandi madu ketika studi di Eropa. Dan sebagian besar dari cerita kehidupan di Belitong itu terkait dengan upaya Ikal mencari A Ling, impiannya.

Di sinilah Andrea Hirata menunjukkan semakin menariknya ia bercerita dibandingkan di buku-buku sebelumnya. Tentang orang tuanya, tentang Arai--sepupunya--, tentang kebiasaan penduduk desanya, tentang teman-temannya Laskar Pelangi, tentang pembuatan perahu, tentang lanun di perairan Malaka, pendeknya tentang hal-hal yang sederhana maupun yang ajaib, yang belum pernah didengar atau diketahui.

Meskipun demikian, ada juga yang mengganjal di buku ini (maafkan tukang protes ini..), yaitu pengukuran tinggi badan Laskar Pelangi ketika kelas dua dan kelas tiga SMP (halaman 258). Apakah mungkin ABG menjadi lebih pendek dalam waktu satu tahun? Harun menjadi lebih pendek 1 cm, Ikal 3 cm, dan Syahdan 9 cm!

Satu hal lagi yang ingin ditanyakan ke Ikal, setelah peristiwa yang ia alami, masihkah ia membungkus dengan tilam, menempatkan di atas nampan pualam?

Sunday, November 16, 2008

Cara Terindah untuk Mati - Kado Kematian untuk Saudaraku

Penulis: Rachmat Ramadhana al-Banjari
Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan I, Oktober 2007

"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh..."
QS. an-Nisaa': 78

Biasanya orang memberi atau menerima kado pada peristiwa penting dalam hidup seperti kelahiran, ulang tahun, atau pernikahan. Kematian adalah suatu peristiwa penting yang pasti akan datang. Tidak ada seorangpun yang mampu menolak atau menunda kehadirannya. Tidak ada satu pun jiwa yang dapat menjamin bahwa dia akan menjalani kehidupan di dunia satu detik, satu menit, satu jam, atau satu hari ke depan. Nah, "kado kematian"; apa pula ini?

Buku "Cara Terindah untuk Mati - Kado Kematian untuk Saudaraku" adalah kado dari penulis buku ini --Rachmat Ramadhana al-Banjari-- untuk saudara-saudaranya dalam rangka memperingati kematian. Buku ini mengingatkan pembacanya antara lain mengenai hakikat kematian, jenis-jenis kematian, indikasi datangnya maut, proses pencabutan ruh, keadaan di alam kubur, serta bekal menyongsong kematian, termasuk muhasabah diri (menghisab diri sendiri), sampai pada meraih husnul khatimah.

Kematian bukanlah akhir dari perjalanan hidup manusia, melainkan transisi untuk memasuki kehidupan di alam baru. Namun sesungguhnya, selain kematian alami terdapat jenis kematian lainnya, seperti kematian iradi (maknawi), kematian suri, kematian kecil, dan kematian hakiki. Kematian hakiki sering tidak disadari, yaitu bahwa secara hakiki diri seseorang sudah mati, yaitu potensi fitrah yang telah mati yang berakibat kematian keimanan, keislaman, keikhsanan, ketauhidan, dan ketakwaan di hadapan Allah SWT. Kematian hakiki terjadi akibat sering melakukan pengingkaran, kemusyrikan, kekafiran, kezhaliman, kefasikan, atau kemaksiatan terhadap perintah Allah dan rasul-Nya.

Bagaimana agar kematian tidak menjadi momok menakutkan? Jalan terbaik adalah dengan mempersiapkan bekal perjalanan abadi tersebut, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Buku ini secara khusus mengingatkan kita kepada kematian kita. Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk perjalanan abadi kita?

Saturday, June 07, 2008

Dari Parangakik Ke Kampuchea

Penulis: Nh. Dini
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan ke-2: 2005 (Cetakan ke-1: 2003)

Episode Dari Parangakik Ke Kampuchea berlangsung jauh sebelum episode La Grande Borne dan Argenteuil, yaitu ketika pasangan Dini dan Yves baru memiliki Lintang. Di sini Dini menceritakan kehidupan keluarganya bersama Lintang yang masih balita (Dini sering disangka sebagai pengasuh Lintang) dan suaminya yang perhitungan sehubungan dengan penugasan suami ke Kamboja, negeri sang Pangeran Kecil (--dari buku Antoine de Saint-Exupéry, julukan rakyat Prancis untuk Pangeran Norodom Sihanouk).

Dari Prancis ke Kamboja, Dini dan Lintang menumpang Kapal Vietnam sampai Saigon dilanjutkan terbang ke Phnom Penh, sementara suami akan menyusul terbang dan bertemu di Saigon. Di kapal Vietnam itulah Dini bertemu dengan Bagus, sang Kapten kapal, yang kemudian menjadi kekasihnya. Pengalaman di Kapal Vietnam inilah yang menjadi cikal bakal buku Pada Sebuah Kapal.

Sedangkan kehidupan Dini di Kamboja berisi kegiatan menjadi ibu rumah tangga di rumah dinas milik Kedutaan Prancis, menyelenggarakan pesta atau resepsi baik di Phnom Penh ataupun di Sihanoukville, aktivitasnya di WIC, dan beberapa kali pertemuannya dengan kekasih. Di Kamboja, secara tidak sengaja Dini bertemu rombongan kesenian Indonesia yang dipimpin Profesor Doktor Priyono--Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada waktu itu-- yang sedang singgah di Phnom Penh setelah berkeliling RRC dan Vietnam. Di dalam rombongan juga ada Pak Kusni--pendiri Ngesti Pandowo-- yang sudah dikenal Dini dan Bulantrisna Djelantik--penari dari Bali-- yang waktu itu masih SMP. Pada waktu itu map naskah Pada Sebuah Kapal sudah dibagi dua: Penari dan Pelaut.

Sebagai seorang pengarang, pada waktu itu (tahun 1960-an awal) Dini sudah memiliki cara kerja menggunakan map-map untuk tiap-tiap naskah dan setiap malam dia menulis buku harian. Seperti file-file di dalam folder-folder komputer ya? Dan tampaknya Dini disiplin untuk menulis cerita dan buku hariannya. Hasilnya antara lain ya buku-buku dalam seri kenangan ini, alat Dini untuk berbagi kisah, yang menjadikannya tukang cerita yang mumpuni dan produktif.

Argenteuil - Hidup Memisahkan Diri


Penulis: Nh. Dini
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008

Setelah La Grande Borne, Dini melanjutkan seri kenangannya dengan Argenteuil - Hidup Memisahkan Diri. Argenteuil terletak di barat laut Paris. Di rumah Tuan Willm di Argenteuil, rumah yang pernah ditempati Karl Marx, Dini bekerja sebagai dame de compagnie--wanita yang menemani--.

Ketika itu, suami Dini bertugas di Detroit, Amerika Serikat. Anak bungsu mereka--Padang-- ikut ke Detroit, sedangkan yang sulung--Lintang-- masih di Prancis menyelesaikan Bac-nya (satu tahun setelah SMA). Ketika suami di Amerika Serikat ini, Dini menulis surat ke suami tentang perpisahan perkawinan mereka. Sebelumnya, Dini sudah berbicara dengan anak-anaknya bagaimana jika Dini berpisah dengan ayah anak-anaknya.

Seperti di buku-buku lain dalam seri kenangannya, cerita-cerita Dini di Argenteuil sangat mengasyikkan. Percakapannya dengan Padang ketika mencari tahu bagaimana pendapat Padang jika orangtuanya berpisah. Cerita mengenai kucing Miu yang tidak mau makan ketika mereka sekeluarga berkemas pindah. Cerita ketika menjamu tamu dan tetangga pada pesta Natal di Detroit. Bagaimana Dini menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Padang ketika teman-teman Padang di USA tidak bisa mengucapkan namanya dengan baik. Juga ketika Dini bertemu keluarga Bagus--kekasihnya--, kehidupannya di Argenteuil, serta ketika menjadi sukarelawan bagi Les Amis de la Nature dan bertemu Brigitte Bardot.

Dalam menyiapkan ujian Bac, ketika Lintang berakhir pekan di rumah Tuan Willm, beberapa kali dia berdiskusi dengan Tuan Willm mengenai novel-novel yang harus dibacanya. Untuk ujian bahasa Prancis, sekolah memberikan daftar 65 judul novel yang harus dibaca! Dini bercerita bahwa ketika seusia dengan anak sulungnya, Dini pun sudah mampu mendalami dan mengerti isi buku-buku berbobot karya pengarang Indonesia dan dunia. Ketika duduk di dua kelas terakhir SMU , Dini sudah melahap buku-buku berbahasa Inggris tulisan Daphne du Maurier, Shakespeare, Pearl S. Buck, Goethe, Edgar Allan Poe, Leo Tolstoy dan lainnya. Dini bahkan menghapalkan beberapa ungkapan atau bait puisi Goethe! (halaman 134) Wow! Dulu ketika lulus SMA ataupun lulus TPB (tahun pertama di PT) berapa buku ya yang sudah saya baca? Rasanya koq sangat sedikit :( Tidak seperti Lintang atau Dini.

Dini tinggal di Argenteuil sampai beberapa bulan setelah Tuan Willm meninggal. Lintang sudah lulus Bac dan akan ke Detroit bersama Dini. Padang sudah minta ke ayahnya supaya Dini datang dan tinggal sampai Natal dan Tahun Baru. Bagaimanakah kisah Dini, keluarga, dan kenalannya selanjutnya? Jadi nagih ni..