Buku, Buku, Buku!

Buku-buku di sini. Buku-buku di sana. Buku di mana-mana. Buku yang sudah, yang belum selesai, atau bahkan belum mulai dibaca. Ini sebuah jurnal tentang buku-buku yang pernah kubaca.

My Photo
Name: Budi Saraswati
Location: Pondok Bintaro, Ciputat, Tangerang 15412, Indonesia

Born and raised in Jakarta, I wonder when, where and how this journey end? .. and how will I reborn again?

Saturday, June 07, 2008

Dari Parangakik Ke Kampuchea

Penulis: Nh. Dini
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Cetakan ke-2: 2005 (Cetakan ke-1: 2003)

Episode Dari Parangakik Ke Kampuchea berlangsung jauh sebelum episode La Grande Borne dan Argenteuil, yaitu ketika pasangan Dini dan Yves baru memiliki Lintang. Di sini Dini menceritakan kehidupan keluarganya bersama Lintang yang masih balita (Dini sering disangka sebagai pengasuh Lintang) dan suaminya yang perhitungan sehubungan dengan penugasan suami ke Kamboja, negeri sang Pangeran Kecil (--dari buku Antoine de Saint-Exupéry, julukan rakyat Prancis untuk Pangeran Norodom Sihanouk).

Dari Prancis ke Kamboja, Dini dan Lintang menumpang Kapal Vietnam sampai Saigon dilanjutkan terbang ke Phnom Penh, sementara suami akan menyusul terbang dan bertemu di Saigon. Di kapal Vietnam itulah Dini bertemu dengan Bagus, sang Kapten kapal, yang kemudian menjadi kekasihnya. Pengalaman di Kapal Vietnam inilah yang menjadi cikal bakal buku Pada Sebuah Kapal.

Sedangkan kehidupan Dini di Kamboja berisi kegiatan menjadi ibu rumah tangga di rumah dinas milik Kedutaan Prancis, menyelenggarakan pesta atau resepsi baik di Phnom Penh ataupun di Sihanoukville, aktivitasnya di WIC, dan beberapa kali pertemuannya dengan kekasih. Di Kamboja, secara tidak sengaja Dini bertemu rombongan kesenian Indonesia yang dipimpin Profesor Doktor Priyono--Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada waktu itu-- yang sedang singgah di Phnom Penh setelah berkeliling RRC dan Vietnam. Di dalam rombongan juga ada Pak Kusni--pendiri Ngesti Pandowo-- yang sudah dikenal Dini dan Bulantrisna Djelantik--penari dari Bali-- yang waktu itu masih SMP. Pada waktu itu map naskah Pada Sebuah Kapal sudah dibagi dua: Penari dan Pelaut.

Sebagai seorang pengarang, pada waktu itu (tahun 1960-an awal) Dini sudah memiliki cara kerja menggunakan map-map untuk tiap-tiap naskah dan setiap malam dia menulis buku harian. Seperti file-file di dalam folder-folder komputer ya? Dan tampaknya Dini disiplin untuk menulis cerita dan buku hariannya. Hasilnya antara lain ya buku-buku dalam seri kenangan ini, alat Dini untuk berbagi kisah, yang menjadikannya tukang cerita yang mumpuni dan produktif.

Argenteuil - Hidup Memisahkan Diri


Penulis: Nh. Dini
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008

Setelah La Grande Borne, Dini melanjutkan seri kenangannya dengan Argenteuil - Hidup Memisahkan Diri. Argenteuil terletak di barat laut Paris. Di rumah Tuan Willm di Argenteuil, rumah yang pernah ditempati Karl Marx, Dini bekerja sebagai dame de compagnie--wanita yang menemani--.

Ketika itu, suami Dini bertugas di Detroit, Amerika Serikat. Anak bungsu mereka--Padang-- ikut ke Detroit, sedangkan yang sulung--Lintang-- masih di Prancis menyelesaikan Bac-nya (satu tahun setelah SMA). Ketika suami di Amerika Serikat ini, Dini menulis surat ke suami tentang perpisahan perkawinan mereka. Sebelumnya, Dini sudah berbicara dengan anak-anaknya bagaimana jika Dini berpisah dengan ayah anak-anaknya.

Seperti di buku-buku lain dalam seri kenangannya, cerita-cerita Dini di Argenteuil sangat mengasyikkan. Percakapannya dengan Padang ketika mencari tahu bagaimana pendapat Padang jika orangtuanya berpisah. Cerita mengenai kucing Miu yang tidak mau makan ketika mereka sekeluarga berkemas pindah. Cerita ketika menjamu tamu dan tetangga pada pesta Natal di Detroit. Bagaimana Dini menyelesaikan permasalahan yang dihadapi Padang ketika teman-teman Padang di USA tidak bisa mengucapkan namanya dengan baik. Juga ketika Dini bertemu keluarga Bagus--kekasihnya--, kehidupannya di Argenteuil, serta ketika menjadi sukarelawan bagi Les Amis de la Nature dan bertemu Brigitte Bardot.

Dalam menyiapkan ujian Bac, ketika Lintang berakhir pekan di rumah Tuan Willm, beberapa kali dia berdiskusi dengan Tuan Willm mengenai novel-novel yang harus dibacanya. Untuk ujian bahasa Prancis, sekolah memberikan daftar 65 judul novel yang harus dibaca! Dini bercerita bahwa ketika seusia dengan anak sulungnya, Dini pun sudah mampu mendalami dan mengerti isi buku-buku berbobot karya pengarang Indonesia dan dunia. Ketika duduk di dua kelas terakhir SMU , Dini sudah melahap buku-buku berbahasa Inggris tulisan Daphne du Maurier, Shakespeare, Pearl S. Buck, Goethe, Edgar Allan Poe, Leo Tolstoy dan lainnya. Dini bahkan menghapalkan beberapa ungkapan atau bait puisi Goethe! (halaman 134) Wow! Dulu ketika lulus SMA ataupun lulus TPB (tahun pertama di PT) berapa buku ya yang sudah saya baca? Rasanya koq sangat sedikit :( Tidak seperti Lintang atau Dini.

Dini tinggal di Argenteuil sampai beberapa bulan setelah Tuan Willm meninggal. Lintang sudah lulus Bac dan akan ke Detroit bersama Dini. Padang sudah minta ke ayahnya supaya Dini datang dan tinggal sampai Natal dan Tahun Baru. Bagaimanakah kisah Dini, keluarga, dan kenalannya selanjutnya? Jadi nagih ni..

Saturday, May 24, 2008

Majalah Tempo - Edisi Khusus Kebangkitan Nasional 1908-2008


Indonesia Yang Kuimpikan
100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri


Banyak cara memperingati 100 tahun kebangkitan nasional tanggal 20 Mei 2008 yang lalu. Majalah Tempo memperingatinya dengan menampilkan 100 naskah yang berkaitan dengan kisah perjalanan bangsa Indonesia. Baik berupa buku, maklumat, peta, pidato, catatan harian, puisi, prosa, fiksi, dan nonfiksi. Penulis berbagai teks tidak hanya orang Indonesia, tetapi juga orang-orang asing. Sedangkan uraian mengenai suatu teks ditulis tidak hanya oleh Tim Penyusun, tetapi juga oleh penulis-penulis di luar Majalah Tempo.

Tentu saja untuk memilih 100 teks tersebut tidak mudah. Tim Penyusun menyadari bahwa pasti ada pilihan yang dirasakan pembaca tidak tepat. Atau malah ada yang tertinggal atau terlupakan. Disebutkan bahwa pengkategorian teks bukan berdasarkan peringkat, melainkan berdasarkan jenis.

Memang betul. Terus terang, saya juga merasakan bahwa ada pilihan yang menurut saya tidak tepat, seperti misalnya--dengan segenap rasa hormat kepada penulis buku-- (20) Perubahan Sosial di Yogyakarta - Selo Sumardjan atau (36) Pemberontakan Petani Banten 1888 - Sartono Kartodirdjo. Menurut saya, kedua buku tersebut bersifat lokal. Tetapi Tim Penyusun berpendapat bahwa Pemberontakan Petani Banten dipilih untuk membuktikan bahwa bukan hanya orang terpelajar yang menggerakkan sejarah, tapi juga orang kecil (halaman 27). Sedangkan Perubahan Sosial di Yogyakarta dipilih mungkin karena fungsi Kota Yogya yang menjadi ibukota Republik Indonesia pada 1946-1949 sehingga mempengaruhi kondisi sosial penduduk (dan pendatang) di Yogya. Ataupun buku (16) The Religion of Java - Clifford Geertz. Saya belum pernah membaca buku Geertz. Tetapi apakah ada pengaruh keagamaan orang Jawa terhadap kebangsaan Indonesia?

Kemudian, mengenai teks (5) Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 - Mohammad Yamin; jika dirasakan teks tersebut tidak lengkap atau ada yang sengaja disembunyikan oleh Yamin, mengapa tidak dipilih Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan - tim bentukan Sekretariat Negara yang di uraian disebutkan merevisi buku Yamin tadi dan tentu saja lebih lengkap?

Hal lain yang agak mengganggu adalah sebagian besar judul teks tidak ditampilkan dengan nama pengarang/penulis/editor. Selain no urut dan judul teks, hanya ditulis penerbit dan tahun terbit. Untuk mengetahui penulis atau editor suatu buku, kita harus mencarinya di image cover buku (yang lumayan kecil) atau di dalam uraian yang menyertai. Misalnya (24) Culture and Politics in Indonesia - Cornell University Press, London(?) (1972), siapa penulis/editornya? Tidak ada image cover buku, hanya disebutkan bahwa para penulisnya mewakili sejumlah ahli antropologi, sejarah, dan ilmu politik.

Masih terkait dengan penyajian, no (26) Science and Scientists in the Netherlands Indies - Board for the Netherlands Indies, Surinam & Curaçao, New York (1945) mengapa tidak berurutan dengan no (35) Six Decades of Science and Scientists in Indonesia - Naturindo, Bogor (2005)? Padahal buku yang kedua ini digagas sebagai penerus buku pertama, meskipun disusun dan diterbitkan oleh pihak yang berbeda.

Satu hal lagi agak mengganggu saya, yaitu penggunaan kata "enggak" pada uraian (63)--mohon maaf kepada penulis atau editor Tim Penyusun--. Karena kata tersebut menurut saya bukan bahasa baku, sebaiknya dicetak miring atau diganti dengan kata "tidak".

Pilihan 100 catatan versi Majalah Tempo ini tidak terbatas hanya pada teks tetapi juga meliputi karya grafis seperti atlas atau bahkan komik (89) Wiro "Anak Rimba Indonesia" dan komik (90) Keulana.

Kalau saya boleh usul, maka saya akan mengusulkan partitur musik dan lirik "Indonesia Raya" ke dalam 100 catatan ini. "Indonesia Raya" sudah mengawal sejak Konggres Pemuda pada 26-28 Oktober 1928 dan masih berkumandang di Indonesia sampai ke luar negeri (paling tidak di kedutaan-kedutaan besar Indonesia di luar negeri).

Ke-100 catatan pilihan Majalah Tempo ini akan menjadi karya-karya klasik tentang Indonesia. Dibutuhkan kerja keras dari Tim Penyusun untuk memilah-milahnya, mencari bahan-bahan lama di berbagai tempat, dan meramunya menjadi uraian yang jelas dan informatif tentang suatu karya. Apalagi kesadaran untuk mendokumentasikan bahan atau naskah penting di Indonesia masih rendah. Melalui edisi khusus Kebangkitan Nasional 1908-1928 ini, Majalah Tempo telah menunjukkan bahan-bahan--dan karenanya memudahkan kita-- untuk mereka ulang perjalanan bangsa. Mudah-mudahan apa yang sudah dilakukan Majalah Tempo bisa dikembangkan lebih lanjut, misalnya dengan memisahkan bahan-bahan dari penulis luar dan dari Indonesia, atau memperluas bahan dengan kategori yang lebih beragam.

Seratus catatan yang merekam perjalanan Indonesia versi Majalah Tempo adalah: (bersambung)
1. Demokrasi Kita - Mohammad Hatta (1966)
2. Dasar Politik Luar Negeri Indonesia (Mendayung Antara Dua Karang) - Mohammad Hatta (1946)
3. Beberapa Fasal Ekonomi - Mohammad Hatta (1942)
4. Di Bawah Bendera Revolusi (Jilid I) - Soekarno (1959)
5. Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 - Mr. Mohammad Yamin (1959)
6. Aspirasi Pemerintahan Kolonial Di Indonesia: Studi Sosio-Legal Atas Konstituante 1956-1959 - Adnan Buyung Nasution (1995)
7. Massa Actie in Indonesia - Tan Malaka (1926)
8. Madilog - Tan Malaka (1943)
9. Dari Penjara Ke Penjara - Tan Malaka (1948)
10. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia - AH Nasution (1977)
11. The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia - Herbert Feith (1973)
12. Dualistische Economy - Boeke (1930)
13. Seni Lukis, Kesenian, Dan Seniman - Soedjojono (194?)
14. Nationalism and Revolution in Indonesia - George Kahin (1952)
15. Indonesian Political Thinking: 1945-1965 _ Herbert Feith dan Lance Castles (1970)
16. The Religion of Java - Clifford Geertz (1960)
17. Netherlands Indie, A Study of Plural Economy - ? (1944)
18. Capita Selecta - M Natsir (1955)
19. Indonesia in den Pacific Kernproblemen van den Aziatischen - GSSJ Ratulangie (1937)
20. Perubahan Sosial Di Yogyakarta - Selo Soemardjan (1990)
21. Dasar-Dasar Pemikiran Tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun - Ali Moertopo (1973)
22. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia - editor(?): Koentjaraningrat (1971)
23. Politik Luar Negeri Indonsia Dan Pelaksanaannya Dewasa Ini - Mochtar Kusumaatmadja (1983)
24. Culture and Politics in Indonesia - ? (1972)
25. a) Art in Indonesia: Continuities and Change - Claire Holt (1967)
b) An Introduction to Indonesia Historiography - editor: Soedjatmoko and ? (1965)
26. Science and Scientist in the Netherlands Indies - ? (1945)
27. Alam Asli Indonesia: Flora, Fauna, Dan Keserasian - Kathy MacKinnon (1986)
28. Ekonomi Pancasila: Gagasan Dan Kemungkinan - Mubyarto (1981)
29. NU, Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru - Martin(?) (1994)
30. Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban) - Mochtar Lubis (1981)
31. Catatan Subversif - Mochtar Lubis (1987)
32. Pembagian Kekuasaan Negara - Ismail Suny (1978)
33. Laporan Dari Banaran - TB Silalahi (1960)
34. Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin - Nakamura(?) (1983)
35. Six Decades of Science and Scientists in Indonesia - Setijati (?) dkk (2005)
36. The Peasants' Revolt of Banten in 1988, ... - Sartono Kartodirdjo (1984)
37. Pedoman Etik Penelitian Kedokteran Indonesia - editor: Prof. Dr. Sri Oemijati, Dr. Rianto Setiabudy, Dr. Arif Budijanto (1986)
38. A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia - Benedict Anderson (1971)
39. 125 Tahun Pendidikan Dokter Di Indonesia 1851-1976 - Fakultas Kedokteran UI (1976)
40. Ekologi Pedesaan: Sebuah Bunga Rampai - Sajogyo (1982)
41. Di Tepi Kali Bekasi - Pramudya Ananta Tur (1951)
42. Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) - Pramoedya Ananta Toer (1980, 1980, 1985, 1988)
43. Siti Nurbaya - Marah Rusli (1920)
44. Belenggu - Armijn Pane (1940)
45. Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma - Idrus (1948)
46. Surabaya - Idrus (1947)
47. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia - Sutan Takdir Alisjahbana (1949)
48. Layar Terkembang - Sutan Takdir Alisjahbana (1936)
49. Salah Asuhan - Abdoel Moeis (1928)
50. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck - Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) (1938)
51. Jalan Tak Ada Ujung - Mochtar Lubis (1952)
52. Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik Dan Esei - HB Jassin (1954)
53. Revolusi Di Nusa Damai - K'tut Tantri (1961, 1964)
54. Bebasari - Roestam Effendi (1920?)
55. Burung-Burung Manyar - YB Mangunwijaya (1981)
56. Sandhyakala Ning Majapahit - Sanusi Pane (1932)
57. Naskah Proklamasi - Soekarno-Hatta (1945)
58. Indonesia Vrij- Mohammad Hatta (1928)
59. Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam Dan Masalah Integrasi Umat - Nurcholish Madjid (2 Januari 1970)
60. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 - Presiden Soekarno
61. Garis-Garis Besar Haluan Negara (1973-1998)
62. Pidato BJ Habibie di Bonn, Jerman, 14 Juni 1983
63. Seandainya Aku Seorang Belanda (Als Ik Eens Nerderlander Was) - Ki Hajar Dewantara (1913)
64. Pidato Lahirnya Pancasila - Soekarno (1 Juni 1945)
65. Hasil Seminar Ekonomi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia 1966
66. Pidato Nirwan Dewanto Saat Kongres Kebudayaan IV (29 Oktober - 3 November 1991)
67. Manifes Kebudayaan (17 Agustus 1963)
68. Surat Kepercayaan Gelanggang (22 Oktober 1950)
69. Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928)
70. Maklumat Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin Mengenai Kemerdekaan Pers (Oktober 1945)
71. Habis Gelap Terbitlah Terang - RA Kartini (1922)
72. Catatan Seoang Demonstran - Soe Hok Gie (1983)
73. Pergolakan Pemikiran Islam - Ahmad Wahib (1981)
74. Polemik Manifesto Politik - Harian "Merdeka" dan "Harian Rakjat" (3-8 Juli 1964)
75. Perjuangan Kita - Sutan Sjahrir (1945)
76. Melawan Melalui Lelucon - Abdurrachman Wahid (2000)
77. Polemik Soetatmo Soerjokoesoemo dan Tjipto Mangoenkoesoemo (1918)
78. Polemik Kebudayaan (1935)
79. The Integrative Revolution: Primordial Sentiments, and Civil Politics in the New States - Clifford Geetz (1963)
80. Defisiensi Vitamin B1: Artikel Tentang Eijkman Dan Hasil Penelitiannya - Christiaan Eijkman (1929)
81. Student Indonesia - Dr. Abdul Rivai (November 1926 - Mei 1928, 2000)
82. Artikel Pranakan Arab Dan Totoknya - ARA Baswedan (1934)
83. Masalah Tionghoa Di Indonesia: Asimilasi vs Integrasi (6 Februari - 25 Juni 1960)
84. Penduduk Dan Kemiskinan - Masri Singarimbun (1976)
85. Deru Campur Debu - Chairil Anwar (1949)
86. Tirani Dan Benteng - Taufiq Ismail (1966)
87. Potret Pembangunan Dalam Puisi - WS Rendra (1980)
88. Aku Ingin Jadi Peluru - Wiji Thukul (2000)
89. Wiro "Anak Rimba Indonesia" (1956)
90. Keulana - Taguan Hardjo (1959)
91. Matinya Seorang Petani - Agam Wispi (1955)
92. Kompasiana _ PK Ojong (1966-1971)
93. Melawat Ke Barat - Djamaluddin Adinegoro (1927-1929)
94. Perjalanan Keliling Indonesia - Gerson Poyk (1970-1980-an)
95. Koran "Medan Prijaji" (1907-1912)
96. Kisah-Kisah Jakarta - Rosihan Anwar (1977)
97. Catatan Di Sumatera - Muhammad Radjab (1949)
98. Atlas Semesta Dunia - Djamaluddin Adinegoro dan Adam Bachtiar (1952)
99. Ensiklopedi Indonesia - Pemimpin Redaksi: TSG Mulia dan KAH Hidding (1955)
100. Kamus Umum Bahasa Indonesia - WJS Poerwadarminta (1952)
(ditambahkan pada 30 Mei 2008 11:35 AM; penulisan beberapa judul buku/tulisan disesuaikan dengan ejaan yang berlaku sekarang)

Wednesday, May 14, 2008

DailyLit: Read books by email and RSS

Di era internet ini ketika kita kebanjiran informasi, rasanya kita jadi tidak punya waktu untuk membaca buku ya? (x_x). Untunglah ada DailyLit yang memanfaatkan fasilitas email atau RSS agar kita sempat membaca buku terutama buku-buku yang sudah masuk dalam public domain. Sebagian besar buku (700 judul lebih) bisa dibaca gratis dan sebagian kecil lainnya berbayar. Ada "Anna Karenina" dan "War and Peace"-nya Tolstoy, ada yang dari Nikolai Gogol, juga ada Bible dan terjemahan Al-Quran, beberapa buku berbahasa non-Inggris, dan masih banyak lagi, dan katanya koleksinya masih akan terus ditambah.

Cara berlangganannya sangat mudah dan bisa diatur apakah mau lewat email atau RSS. Kapan mau di-update juga bisa diatur; apakah mau setiap hari, pada hari kerja, atau hari-hari tertentu saja (Senin, Rabu, Jumat). Bahkan jam di-update pun bisa diatur!

Membaca buku lewat RSS ini pernah saya lakukan untuk "The Notebooks of Leonarda Da Vinci" (bukan dari DailyLit, tetapi dari sini), meskipun sekarang sedang terputus akibat saya mengganti komputer. X(..)

Kembali ke DailyLit, saya menjajalnya dengan berlangganan "The Autobiography of Benjamin Franklin" lewat RSS. Kalau Anda, buku apa yang Anda pilih?

Sunday, May 11, 2008

Palestina Membara (d/h Palestina 1 - 2) Duka Orang-Orang Terusir




Judul asli: Palestine
Karya: Joe Sacco
Pengantar: Edward Said dan Goenawan Mohamad--pada edisi Indonesia--
Penerjemah: Ary Nilandari
Penyunting naskah: Salman Faridi
Desain sampul: Andi Yudha A.
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan I, Maret 2008 (d/h Cetakan I, November 2003)

Novel grafis Palestina Membara (1 jilid) pada tahun 2003 pernah diterbitkan sebagai Palestina 1 dan Palestina 2 (2 jilid). Kami terkecoh, menyangka buku baru, ternyata kami sudah punya buku ini. Hanya saja, buku ini dulu diterbitkan dalam 2 jilid, sekarang dalam 1 jilid.

Di dalam Palestina Membara (d/h Palestina), Joe Sacco menceritakan perjalanannya berkunjung ke kamp-kamp pengungsi Palestina, melihat apa yang terjadi dan suasana keseharian di sana. Dia mewawancara orang-orang; tidak hanya menanyakan pengalaman dan keseharian mereka, tetapi juga menanyakan perasaan dan menangkap ekspresi wajah dan tubuh mereka. Dan Joe Sacco memiliki kelebihan lain: dia juga bercerita melalui gambar.

Wow, bercerita lewat kata-kata saja sudah sulit, ditambah bercerita lewat gambar. Format gambarnya pun bermacam-macam: seperti komik biasa (satu halaman dibagi dalam beberapa kotak), gambar satu halaman penuh, atau seperti majalah dengan kolom-kolom yang dilengkapi gambar. Jadinya sangat padat dan informatif, padahal sebagian besar isinya adalah penderitaan orang-orang Palestina.

Alkisah, di dalam Joshua 1 : 3 termuat sebagai berikut:
Setiap tempat yang dilangkahi telapak kakimu telah kuberikan kepadamu seperti yang kujanjikan kepada Musa. Dari padang liar dan Lebanon ini hingga sungai Euphrates, seluruh tanah Hitit sampai ...


Pada tahun 1917, Lord Balfour dari Inggris menandatangani deklarasi dan para zionis memperoleh komitmen Inggris untuk sebuah negeri di Palestina untuk kaum Yahudi. "Negeri tanpa rakyat untuk rakyat tanpa negeri" (halaman 12). Tapi benarkah demikian? Pada tahun 1917 banyak orang Arab tinggal di Palestina. Ketika itu perbandingan Arab dan Yahudi adalah 10 banding 1.

Pengusiran warga Palestina ternyata sudah menjadi gagasan pada akhir 1800-an sejak Theodor Herzl merumuskan Zionisme modern. "Kita harus memindahkan secara diam-diam populasi miskin itu [sic] ke luar perbatasan dengan menciptakan pekerjaan untuknya di negara-negara transit, sementara melarangnya bekerja di negara kita sendiri."

Menurut Perdana Menteri pertama Israel, David Ben-Gurion, orang Palestina "sama nyamannya apakah dia di Yordania, Lebanon, atau tempat-tempat lain". Bagi Ben-Gurion tidak ada "pemindahan diam-diam", yang ada adalah "serangan telak yang mengakibatkan kehancuran rumah-rumah dan pengusiran populasi". "Warga Palestina hanya punya satu peran lagi... untuk lari."

Setelah tahun 1948, Perdana Menteri Golda Meier menganggap, "Seolah-olah ada orang-orang Palestina yang menganggap diri mereka warga Palestina dan kami datang lalu mendepak mereka keluar dan mengambil negeri mereka. Tidak begitu. Mereka tidak ada." (halaman 42)

Mereka tidak ada? Selama dan setelah perang tahun 1948 nyaris 400 desa Palestina dihancurkan Israel. Rumah dan tanah orang Palestina dinyatakan "ditinggalkan" atau "tidak diolah" dan diambil alih untuk permukiman Yahudi.

Dan datanglah Joe Sacco, yang kemudian bercerita dan menggambarkan untuk kita tentang orang-orang Palestina: mereka yang lari pada tahun 1948, mereka yang rumah dan kebun zaitunnya dihancurkan, anak sekolah yang tertembak, orang-orang yang bekerja di Israel yang harus memiliki beberapa macam izin, orang-orang pengangguran, anak muda yang beberapa kali ditembak, orang-orang yang pernah dipenjara (menjadikan mereka yang belum pernah dipenjara merasa malu), peraturan berusaha yang sangat merugikan orang-orang Palestina, listrik yang mati, distribusi air yang disengaja agar orang Palestina mendapat air yang asin, suami-istri yang terpisah karena tidak mendapat izin (Israel) untuk keluar atau masuk Palestina, anak yang sedang berteduh dari hujan dan diusir oleh tentara karena tentara-tentara itulah yang akan berteduh dan anak itu yang harus berhujan-hujan, dan lain-lain, dan sebagainya.

Tidak hanya itu, Joe Sacco juga bercerita tentang bagaimna orang Palestina menerima dan menjamu tamu: suguhan teh atau kopi, hidangan-hidangan makan malam, orang Palestina yang mempersilakan Joe Sacco tidur di tempat tidur sedangkan pemilik rumah tidur di lantai yang dingin. Bahkan ada pemilik rumah yang menawarkan baju dalamnya ketika tahu Joe Sacco tidak membawa ganti.

Setelah 60 tahun berlalu dari perang 1948, 41 tahun dari perang tahun 1967, 21 tahun dari Intifada, nasib orang Palestina tidak membaik, kalau tidak dikatakan semakin memburuk. Banyak orang Palestina bertanya ke Joe Sacco, bahwa sudah banyak jurnalis yang datang, mewawancara dan membuat foto-foto, tetapi apa gunanya bagi orang Palestina?

Paling tidak, dengan adanya komik karya Joe Sacco ini, pembaca seperti ikut berada di jalan-jalan berlumpur kamp-kamp pengungsi, memasuki rumah dan merasakan keramahan keluarga Palestina di balik tekanan hidup yang mereka hadapi, tertawa mendengar pertanyaan anak-anak. Meskipun kita tidak bisa merasakan duka, kepedihan, kegusaran, dan kegeraman mereka (bayangan kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengalaman nyata mereka), novel grafis Palestina mengingatkan kita untuk menyertakan orang-orang Palestina (dan bangsa-bangsa teraniaya lainnya) dalam doa-doa kita.

Saturday, January 26, 2008

RADJA KETJIL Badjak Laut Di Selat Malaka

Penulis: H. Rosihan Anwar
Penerbit: Indira, Jakarta, 1967

Ejaan lama ya??? !@#$%^&* Wow, jadul kaleee... Belum lahir ketika buku ini terbit?

Buku RADJA KETJIL ini bersejarah bagi saya karena merupakan hadiah kenaikan kelas dari guru kelas 3 SD dulu di tahun 1970 (37 tahun yang lalu!). Seingat saya, Ibu Maria memberi hadiah kepada juara I sampai III (dulu belum ada istilah ranking; dan rasanya saya bukan juara I). Terima kasih Ibu Maria. Buku ini juga merupakan satu-satunya hadiah yang saya terima berkaitan dengan prestasi akademis. 'Duh, miskin prestasi ya?

Meskipun subjudulnya "Badjak Laut Di Selat Malaka", buku ini tidak menceritakan petualangan para bajak laut, tetapi tentang perebutan kekuasaan di Kerajaan Johor. Memang, di masa mudanya, Radja Ketjil hidup mengembara di laut dan di darat di pelbagai bagian Nusantara. Ia berteman dengan orang-orang Illanun, Balanini, perompak-perompak laut dari Tobelo dan Galela, menahan kapal-kapal orang kulit putih lalu merompaknya habis-habisan. Bajak laut yang berasal dari berbagai tempat seperti Johor, Jambi, Palembang, Minangkabau, bukanlah bajak laut yang asal merompak, melainkan mereka membawa amanat membela rakyat terhadap kaum penjajah asing yang datang dari Barat seperti Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis. Barangkali subjudul yang lebih tepat adalah "Mantan Badjak Laut Di Selat Malaka"? ;p

Kisah di buku ini dimulai ketika Radja Ketjil sudah berkuasa di Kerajaan Siak yang berkedudukan di Bengkalis, hendak menyerang Johor. Bergantian datang orang Bugis dan kemudian Raja Negara--Temenggung Kerajaan Johor-- dari Singapura menawarkan bantuan. Tentu saja tawaran bantuan ini tidak cuma-cuma, tetapi ada imbalannya.

Johor jatuh ke tangan Radja Ketjil pada tanggal 17 Maret 1717. Dikisahkan pada waktu itu sebuah kapal perang Portugis sedang berlabuh di Johor. Kapal itu milik Gubernur Portugis, Albuquerque Coelho--apa ada hubungan dengan Paolo Coelho?--, yang baru diangkat untuk Macao.

Dikisahkan bahwa Sultan Johor kemudian menyerah dan dijadikan bendahara. Radja Ketjil lalu menikahi salah seorang putri bendahara, yang diperkirakan sebagai siasat untuk mengambil hati orang-orang Johor, yaitu untuk mencegah pembangkangan di masa mendatang.

Daing Parani, orang Bugis yang menawarkan bantuan tetapi kemudian ditinggal Radja Ketjil ketika menyerang Johor, kemudian menagih janji agar diangkat sebagai Yang Dipertuan Muda. Radja Ketjil menolak. Daing Parani kemudian menikahi putri bendarahara juga.

Persengkokolan baru pun dibuat, yaitu antara anak laki-laki bendahara (ipar Radja Ketjil dan Daing Parani) dan Daing Parani untuk menggulingkan Radja Ketjil. Tetapi usaha kudeta ini bisa dipatahkan. Radja Ketjil memindahkan pusat kerajaan ke Riau.

Rupanya persetukuan Tongku Soleiman (putra bendahara) dan Daing Parani untuk merebut kekuasaan Kerajaan Johor masih berlanjut. Orang-orang Bugis mendadak muncul di Riau. Radja Ketjil berhasil diperdayakan di Pulau Linggi dan kerajaannya di Riau berhasil direbut.

Cerita diakhiri dengan utusan Radja Ketjil berhasil membawa keluar istri Radja Ketjil dan istri-istri para pengikutnya sehingga dapat bergabung dengan Radja Ketjil dan para pengikutnya di pengasingan.

Begitulah kehidupan suku-suku bangsa di Nusantara, yang tidak henti-hentinya saling bertikai, berebut kekuasaan. Pertikaian terus menerus ini dimanfaatkan Belanda dengan politik "divide et impera". Suatu suku bangsa diminta membantu menumpas pemberontakan suku lain. Orang Maluku diminta berperang ke Sumatera. Orang Jawa diminta berperang ke Sulawesi atau Sumatera. Demikian seterusnya. Suku-suku bangsa yang tidak bersatu dan terpecah-belah, dan dibuat untuk terus bersengketa, sehingga mudah dikuasai/dijajah.

Meskipun jadul, kisah Radja Ketjil ini sesungguhnya tetap relevan dengan kondisi sekarang. Perebutan kekuasaan (bisa dalam bentuk yang lain: pilkada atau pilkades misalnya), pertikaian, masih mewarnai keseharian kita. Novella sejarah yang ditulis Rosihan Anwar ini hendaknya dijadikan peringatan dan pelajaran bagi generasi muda Indonesia agar terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Ingat semboyan "Bhinneka Tunggal Ika". Karena seperti kata pepatah, "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh".

Saturday, December 22, 2007

an inconvenient truth


Penulis: Al Gore
Penerbit: Bloomsburry Publishing, London, 2006 (diterbitkan pertama kali di USA oleh Rodale, 2006)

an inconvenient truth - The Planetary Emergency Of Global Warming And What We Can Do About It bermula dari slideshow, yang kemudian berkembang menjadi buku dan film dalam judul yang sama. Buku ini merupakan buku kedua Al Gore, setelah buku pertamanya Earth in The Balance terbit tahun 1992. Adalah Tipper (istri Al Gore) yang mengusulkan untuk menyusun buku yang disertai dengan foto dan gambar grafis agar krisis iklim mencapai khalayak yang lebih luas.

Buku ini sama seperti film an incovenient truth, memperlihatkan slideshow tentang pemanasan global akibat peningkatan emisi CO2 dan efek rumah kaca serta pengaruhnya terhadap perubahan iklim di bumi, tetapi dalam intensitas yang lebih kuat. Yah, memang pictures speak louder than words. Tetapi juga, karena narasi di buku ini lebih dalam dan luas dan pembaca memiliki waktu yang lebih lama untuk mencerna. Film an inconvenient truth memiliki keunggulan tersendiri karena adanya animasi grafis pada slideshow yang disiapkan Al Gore, tetapi penonton mungkin tidak cukup waktu untuk mengendapkan karena film atau slideshow terus bergerak.

Sama seperti filmnya, buku ini diselingi dengan uraian mengenai kehidupan keluarga Al Gore dan Tipper, masa kecil Al Gore, kakaknya Nancy, ilmuwan Roger Revelle.

Di akhir buku, Al Gore menuliskan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi masalah krisis iklim, yang secara garis besar adalah:
• hemat energi di rumah;
• bepergian dengan cara hemat;
• kurangi konsumsi, lestarikan (lingkungan) lebih sering;
• jadilah katalisator untuk perubahan.
Beberapa saran--dan situs web yang disertakan--tampaknya hanya dapat dilaksanakan oleh mereka yang tinggal di Amerika Serikat atau ditujukan untuk yang tinggal di negara 4 musim, tetapi banyak saran lainnya bisa diterapkan secara universal.

Al Gore juga mengingatkan adanya 10 konsepsi yang salah mengenai pemanasan global, seperti:
1. Ilmuwan tidak sepakat mengenai apakah manusia merupakan penyebab iklim bumi berubah.
2. Banyak hal dapat mempengaruhi iklim--sehingga tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan hanya CO2.
3. Secara alamiah iklim akan bervariasi dari waktu ke waktu sehingga setiap perubahan yang kita lihat saat ini hanyalah bagian dari siklus alamiah.
4. Lubang di lapisan ozon menyebabkan pemanasan global.
5. Tidak ada yang dapat kita perbuat mengenai perubahan iklim. Sudah terlalu terlambat.
6. Lembaran es Antartika bertumbuh sehingga tidak benar bahwa pemanasan global menyebabkan glasir dan es di laut mencair.
7. Pemanasan global adalah hal yang baik, karena akan menghindarkan kita dari musim dingin yang parah dan menyebabkan tanaman lebih cepat tumbuh.
8. Ilmuwan pemanasan global mencatat bahwa ini hanyalah akibat kota-kota yang memperangkap panas, dan bukan efek gas rumah kaca.
9. Pemanasan global adalah akibat meteor yang menabrak Siberia di awal abad ke-20.
10. Suhu di beberapa wilayah tidak meningkat sehingga pemanasan global adalah mitos.

Buku dan juga film an inconvenient truth membawa pesan yang kuat yang semakin menyadarkan manusia dalam menjaga bumi yang hanya satu-satunya ini untuk kepentingan manusia dan anak-cucunya saat ini dan nanti.

Wednesday, December 19, 2007

iWoz


Penulis: Steve Wozniak dengan Gina Smith
Penerbit: Headline Review, 2006

Komputer Apple I dan Apple II. Itulah hasil rancangan Steve Wozniak. Dengan produk Apple I inilah Apple Computer didirikan Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ron Wayne di akhir tahun 1975.

Apple I adalah komputer yang bisa dihubungkan ke keyboard untuk memasukkan input data dan ke TV sebagai layar untuk melihat hasilnya. Pada waktu itu, belum ada komputer yang menggunakan display dan keyboard. Komputer masih menggunakan switch dan lampu di panel depan dan tidak ada layar.

Komputer inilah yang diperlihatkan pada pertemuan Homebrew Computer Club. Steve Jobs mengusulkan untuk menggunakan Intel DRAM daripada AMI DRAM. Dan Steve Jobs lah yang mengusulkan untuk membuat dan menjual printed circuit board dari Apple I kepada anggota-anggota Homebrew lainnya. Meskipun para anggota Homebrew mendapatkan skema Apple I, mereka mungkin tidak punya waktu atau tidak mampu untuk mewujudkan komputer ini.

Agar balik modal, paling tidak harus terjual 50 unit printed circuit board seharga $40. Wozniak meragukan apakah hal ini bisa terwujud. Hanya ada 500-an anggota Homebrew Computer dan sebagian besar antusias pada Altair. Tapi Steve Jobs punya argumen bagus, "Kalaupun kita kehilangan uang, kita punya perusahaan. Untuk sekali dalam hidup kita, kita akan punya perusahaan."

Adapun Apple II didesain untuk berwarna, dengan grafis resolusi tinggi, suara, bisa ditambahkan pedal game, dan bisa nge-boot, siap untuk digunakan dengan bahasa BASIC di ROM-nya. Apple II diumumkan dan dipertunjukkan di West Coast Computer Faire di San Fransisco, bulan Januari 1977.

Kalau melihat masa kecil dan remaja Steve Wozniak, tidak heran kalau dia bisa membuat komputer. Sejak kecil mainannya adalah barang-barang elektronika. Ayah Woz adalah insinyur di program peluru kendali di Lockheed. Woz selalu bertanya dan ayahnya menerangkan, tentang resistor, elektron, diode, transistor, apa saja. Ketika di kelas 6, Woz sangat maju di bidang matematika dan sains, dan ketika dites IQ, ternyata IQ-nya 200 lebih.

Sejak kelas 3 sampai kelas 8 Woz selalu ikut kompetisi sains. Di kelas 8 dia membuat alat Penambah/Pengurang. Ketika di sekolah menengah, Woz mulai suka jahil, mengerjai orang. Sampai-sampai dia pernah dimasukkan ke sel selama semalam. Sifat jahilnya, yang kalau dipikir-pikir mengarah ke kriminal, bahkan muncul di West Coast Computer Faire.

Ketika di SMA, guru elektronika mengizinkan Woz bekerja pada jam sekolah hari Jumat di suatu perusahaan untuk membuat program komputer. Woz membeli buku FORTRAN, belajar menggunakan keypunch, dan menjalankan programnya. Di sini Woz mengenal yang disebut loop (kantor pusat Apple sekarang terletak di 1 Infinite Loop), dan mendapatkan handbook komputer mini dari Digital Equipmen PDP-8 serta mempelajarinya. Sejak itu Woz mengumpulkan manual dari berbagai komputer mini dan katalog-katalog dari berbagai komponen komputer. Di kamarnya, dalam waktu luangnya, Woz mendesain ulang komputer-komputer tersebut menurut versinya sendiri sampai dua-tiga kali, dengan makin sedikit chip dan makin efisien, tetapi hanya di atas kertas.

Sebelum melanjutkan kuliah di Berkeley (sebelumnya Woz kuliah di Colorado dan De Anza), Woz membaca tentang Blue Box, alat untuk mengelabui perusahaan telepon supaya bisa menelepon gratis seolah menelepon ke nomor bebas pulsa. Woz membuat Blue Box digital. Pada waktu ini, Woz sudah mengenal Steve Jobs. Steve Jobs juga yang mengusulkan untuk mengkomersialkan alat ini. Tapi usaha ini membuat mereka was-was karena alat ini sesungguhnya ilegal.

O ya, kerjasama (bisnis) kedua Steve juga pernah terjadi ketika Steve Jobs bekerja di Atari dan waktu itu Steve Wozniak sudah bekerja di Hewlett Packard. Hanya diberi waktu 4 hari, Woz mendapat order untuk membuat game, versi solitaire dari game Pong dan Woz berhasil melakukannya. Steve Jobs membagi honornya separuh dengan Woz. Jobs mengaku bahwa dia mendapat 700 dolar dari Atari. (Di iCon yang ditulis Jeffrey S. Young dan William L. Simon disebutkan Jobs mengaku hanya mendapat $600. Tentang iCon, lihat catatan saya di Steve Jobs dan Bill Gates, Di Mana Aku Waktu Itu?) Tapi dari orang lain, Woz mendengar bahwa Jobs mendapat lebih sampai beberapa ribu dolar (Di iCon disebutkan $ 1,000). Meskipun sakit hati, Woz tidak mau mempermasalahkannya. Orang kan beda-beda, menurut Woz.

Membaca iWoz seperti mendengar Steve Wozniak sendiri yang bercerita kepada kita. Betapa beruntungnya Woz, mempunyai ayah yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya, memperkenalkannya dengan bahan dan alat-alat elektronika, mengajarinya menyolder, menyediakan majalah-majalah tentang elektronika, mendukungnya dalam proyek-proyek sains sekolah, memberikan landasan yang kokoh dalam hardware dan software.

Di bab akhir, Woz memberi nasihat bagi calon inventor, antara lain: bekerjalah sendiri (Woz tidak percaya kerja tim), lihat sesuatu secara abu-abu (tidak hitam-putih). Woz mengibaratkan engineer hampir sama seperti seniman: untuk mencapai kesempurnaan, menata segala sesuatunya secara sempurna, dengan cara yang belum pernah dilakukan seorang pun.