Buku, Buku, Buku!

verba volant, scripta manent ~ kata-kata yang diucapkan akan lenyap, yang dituliskan akan tetap

My Photo
Name:
Location: Bintaro, Tangerang Selatan 15412, Indonesia

Born and raised in Jakarta, I wonder when, where and how this journey end? .. and how will I reborn again?

Saturday, May 24, 2008

Majalah Tempo - Edisi Khusus Kebangkitan Nasional 1908-2008


Indonesia Yang Kuimpikan
100 catatan yang merekam perjalanan sebuah negeri


Banyak cara memperingati 100 tahun kebangkitan nasional tanggal 20 Mei 2008 yang lalu. Majalah Tempo memperingatinya dengan menampilkan 100 naskah yang berkaitan dengan kisah perjalanan bangsa Indonesia. Baik berupa buku, maklumat, peta, pidato, catatan harian, puisi, prosa, fiksi, dan nonfiksi. Penulis berbagai teks tidak hanya orang Indonesia, tetapi juga orang-orang asing. Sedangkan uraian mengenai suatu teks ditulis tidak hanya oleh Tim Penyusun, tetapi juga oleh penulis-penulis di luar Majalah Tempo.

Tentu saja untuk memilih 100 teks tersebut tidak mudah. Tim Penyusun menyadari bahwa pasti ada pilihan yang dirasakan pembaca tidak tepat. Atau malah ada yang tertinggal atau terlupakan. Disebutkan bahwa pengkategorian teks bukan berdasarkan peringkat, melainkan berdasarkan jenis.

Memang betul. Terus terang, saya juga merasakan bahwa ada pilihan yang menurut saya tidak tepat, seperti misalnya--dengan segenap rasa hormat kepada penulis buku-- (20) Perubahan Sosial di Yogyakarta - Selo Sumardjan atau (36) Pemberontakan Petani Banten 1888 - Sartono Kartodirdjo. Menurut saya, kedua buku tersebut bersifat lokal. Tetapi Tim Penyusun berpendapat bahwa Pemberontakan Petani Banten dipilih untuk membuktikan bahwa bukan hanya orang terpelajar yang menggerakkan sejarah, tapi juga orang kecil (halaman 27). Sedangkan Perubahan Sosial di Yogyakarta dipilih mungkin karena fungsi Kota Yogya yang menjadi ibukota Republik Indonesia pada 1946-1949 sehingga mempengaruhi kondisi sosial penduduk (dan pendatang) di Yogya. Ataupun buku (16) The Religion of Java - Clifford Geertz. Saya belum pernah membaca buku Geertz. Tetapi apakah ada pengaruh keagamaan orang Jawa terhadap kebangsaan Indonesia?

Kemudian, mengenai teks (5) Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 - Mohammad Yamin; jika dirasakan teks tersebut tidak lengkap atau ada yang sengaja disembunyikan oleh Yamin, mengapa tidak dipilih Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan - tim bentukan Sekretariat Negara yang di uraian disebutkan merevisi buku Yamin tadi dan tentu saja lebih lengkap?

Hal lain yang agak mengganggu adalah sebagian besar judul teks tidak ditampilkan dengan nama pengarang/penulis/editor. Selain no urut dan judul teks, hanya ditulis penerbit dan tahun terbit. Untuk mengetahui penulis atau editor suatu buku, kita harus mencarinya di image cover buku (yang lumayan kecil) atau di dalam uraian yang menyertai. Misalnya (24) Culture and Politics in Indonesia - Cornell University Press, London(?) (1972), siapa penulis/editornya? Tidak ada image cover buku, hanya disebutkan bahwa para penulisnya mewakili sejumlah ahli antropologi, sejarah, dan ilmu politik.

Masih terkait dengan penyajian, no (26) Science and Scientists in the Netherlands Indies - Board for the Netherlands Indies, Surinam & Cura├žao, New York (1945) mengapa tidak berurutan dengan no (35) Six Decades of Science and Scientists in Indonesia - Naturindo, Bogor (2005)? Padahal buku yang kedua ini digagas sebagai penerus buku pertama, meskipun disusun dan diterbitkan oleh pihak yang berbeda.

Satu hal lagi agak mengganggu saya, yaitu penggunaan kata "enggak" pada uraian (63)--mohon maaf kepada penulis atau editor Tim Penyusun--. Karena kata tersebut menurut saya bukan bahasa baku, sebaiknya dicetak miring atau diganti dengan kata "tidak".

Pilihan 100 catatan versi Majalah Tempo ini tidak terbatas hanya pada teks tetapi juga meliputi karya grafis seperti atlas atau bahkan komik (89) Wiro "Anak Rimba Indonesia" dan komik (90) Keulana.

Kalau saya boleh usul, maka saya akan mengusulkan partitur musik dan lirik "Indonesia Raya" ke dalam 100 catatan ini. "Indonesia Raya" sudah mengawal sejak Konggres Pemuda pada 26-28 Oktober 1928 dan masih berkumandang di Indonesia sampai ke luar negeri (paling tidak di kedutaan-kedutaan besar Indonesia di luar negeri).

Ke-100 catatan pilihan Majalah Tempo ini akan menjadi karya-karya klasik tentang Indonesia. Dibutuhkan kerja keras dari Tim Penyusun untuk memilah-milahnya, mencari bahan-bahan lama di berbagai tempat, dan meramunya menjadi uraian yang jelas dan informatif tentang suatu karya. Apalagi kesadaran untuk mendokumentasikan bahan atau naskah penting di Indonesia masih rendah. Melalui edisi khusus Kebangkitan Nasional 1908-1928 ini, Majalah Tempo telah menunjukkan bahan-bahan--dan karenanya memudahkan kita-- untuk mereka ulang perjalanan bangsa. Mudah-mudahan apa yang sudah dilakukan Majalah Tempo bisa dikembangkan lebih lanjut, misalnya dengan memisahkan bahan-bahan dari penulis luar dan dari Indonesia, atau memperluas bahan dengan kategori yang lebih beragam.

Seratus catatan yang merekam perjalanan Indonesia versi Majalah Tempo adalah: (bersambung)
1. Demokrasi Kita - Mohammad Hatta (1966)
2. Dasar Politik Luar Negeri Indonesia (Mendayung Antara Dua Karang) - Mohammad Hatta (1946)
3. Beberapa Fasal Ekonomi - Mohammad Hatta (1942)
4. Di Bawah Bendera Revolusi (Jilid I) - Soekarno (1959)
5. Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 - Mr. Mohammad Yamin (1959)
6. Aspirasi Pemerintahan Kolonial Di Indonesia: Studi Sosio-Legal Atas Konstituante 1956-1959 - Adnan Buyung Nasution (1995)
7. Massa Actie in Indonesia - Tan Malaka (1926)
8. Madilog - Tan Malaka (1943)
9. Dari Penjara Ke Penjara - Tan Malaka (1948)
10. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia - AH Nasution (1977)
11. The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia - Herbert Feith (1973)
12. Dualistische Economy - Boeke (1930)
13. Seni Lukis, Kesenian, Dan Seniman - Soedjojono (194?)
14. Nationalism and Revolution in Indonesia - George Kahin (1952)
15. Indonesian Political Thinking: 1945-1965 _ Herbert Feith dan Lance Castles (1970)
16. The Religion of Java - Clifford Geertz (1960)
17. Netherlands Indie, A Study of Plural Economy - ? (1944)
18. Capita Selecta - M Natsir (1955)
19. Indonesia in den Pacific Kernproblemen van den Aziatischen - GSSJ Ratulangie (1937)
20. Perubahan Sosial Di Yogyakarta - Selo Soemardjan (1990)
21. Dasar-Dasar Pemikiran Tentang Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun - Ali Moertopo (1973)
22. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia - editor(?): Koentjaraningrat (1971)
23. Politik Luar Negeri Indonsia Dan Pelaksanaannya Dewasa Ini - Mochtar Kusumaatmadja (1983)
24. Culture and Politics in Indonesia - ? (1972)
25. a) Art in Indonesia: Continuities and Change - Claire Holt (1967)
b) An Introduction to Indonesia Historiography - editor: Soedjatmoko and ? (1965)
26. Science and Scientist in the Netherlands Indies - ? (1945)
27. Alam Asli Indonesia: Flora, Fauna, Dan Keserasian - Kathy MacKinnon (1986)
28. Ekonomi Pancasila: Gagasan Dan Kemungkinan - Mubyarto (1981)
29. NU, Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru - Martin(?) (1994)
30. Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban) - Mochtar Lubis (1981)
31. Catatan Subversif - Mochtar Lubis (1987)
32. Pembagian Kekuasaan Negara - Ismail Suny (1978)
33. Laporan Dari Banaran - TB Silalahi (1960)
34. Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin - Nakamura(?) (1983)
35. Six Decades of Science and Scientists in Indonesia - Setijati (?) dkk (2005)
36. The Peasants' Revolt of Banten in 1988, ... - Sartono Kartodirdjo (1984)
37. Pedoman Etik Penelitian Kedokteran Indonesia - editor: Prof. Dr. Sri Oemijati, Dr. Rianto Setiabudy, Dr. Arif Budijanto (1986)
38. A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia - Benedict Anderson (1971)
39. 125 Tahun Pendidikan Dokter Di Indonesia 1851-1976 - Fakultas Kedokteran UI (1976)
40. Ekologi Pedesaan: Sebuah Bunga Rampai - Sajogyo (1982)
41. Di Tepi Kali Bekasi - Pramudya Ananta Tur (1951)
42. Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) - Pramoedya Ananta Toer (1980, 1980, 1985, 1988)
43. Siti Nurbaya - Marah Rusli (1920)
44. Belenggu - Armijn Pane (1940)
45. Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma - Idrus (1948)
46. Surabaya - Idrus (1947)
47. Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia - Sutan Takdir Alisjahbana (1949)
48. Layar Terkembang - Sutan Takdir Alisjahbana (1936)
49. Salah Asuhan - Abdoel Moeis (1928)
50. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck - Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) (1938)
51. Jalan Tak Ada Ujung - Mochtar Lubis (1952)
52. Kesusastraan Indonesia Modern Dalam Kritik Dan Esei - HB Jassin (1954)
53. Revolusi Di Nusa Damai - K'tut Tantri (1961, 1964)
54. Bebasari - Roestam Effendi (1920?)
55. Burung-Burung Manyar - YB Mangunwijaya (1981)
56. Sandhyakala Ning Majapahit - Sanusi Pane (1932)
57. Naskah Proklamasi - Soekarno-Hatta (1945)
58. Indonesia Vrij- Mohammad Hatta (1928)
59. Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam Dan Masalah Integrasi Umat - Nurcholish Madjid (2 Januari 1970)
60. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 - Presiden Soekarno
61. Garis-Garis Besar Haluan Negara (1973-1998)
62. Pidato BJ Habibie di Bonn, Jerman, 14 Juni 1983
63. Seandainya Aku Seorang Belanda (Als Ik Eens Nerderlander Was) - Ki Hajar Dewantara (1913)
64. Pidato Lahirnya Pancasila - Soekarno (1 Juni 1945)
65. Hasil Seminar Ekonomi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia 1966
66. Pidato Nirwan Dewanto Saat Kongres Kebudayaan IV (29 Oktober - 3 November 1991)
67. Manifes Kebudayaan (17 Agustus 1963)
68. Surat Kepercayaan Gelanggang (22 Oktober 1950)
69. Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928)
70. Maklumat Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin Mengenai Kemerdekaan Pers (Oktober 1945)
71. Habis Gelap Terbitlah Terang - RA Kartini (1922)
72. Catatan Seoang Demonstran - Soe Hok Gie (1983)
73. Pergolakan Pemikiran Islam - Ahmad Wahib (1981)
74. Polemik Manifesto Politik - Harian "Merdeka" dan "Harian Rakjat" (3-8 Juli 1964)
75. Perjuangan Kita - Sutan Sjahrir (1945)
76. Melawan Melalui Lelucon - Abdurrachman Wahid (2000)
77. Polemik Soetatmo Soerjokoesoemo dan Tjipto Mangoenkoesoemo (1918)
78. Polemik Kebudayaan (1935)
79. The Integrative Revolution: Primordial Sentiments, and Civil Politics in the New States - Clifford Geetz (1963)
80. Defisiensi Vitamin B1: Artikel Tentang Eijkman Dan Hasil Penelitiannya - Christiaan Eijkman (1929)
81. Student Indonesia - Dr. Abdul Rivai (November 1926 - Mei 1928, 2000)
82. Artikel Pranakan Arab Dan Totoknya - ARA Baswedan (1934)
83. Masalah Tionghoa Di Indonesia: Asimilasi vs Integrasi (6 Februari - 25 Juni 1960)
84. Penduduk Dan Kemiskinan - Masri Singarimbun (1976)
85. Deru Campur Debu - Chairil Anwar (1949)
86. Tirani Dan Benteng - Taufiq Ismail (1966)
87. Potret Pembangunan Dalam Puisi - WS Rendra (1980)
88. Aku Ingin Jadi Peluru - Wiji Thukul (2000)
89. Wiro "Anak Rimba Indonesia" (1956)
90. Keulana - Taguan Hardjo (1959)
91. Matinya Seorang Petani - Agam Wispi (1955)
92. Kompasiana _ PK Ojong (1966-1971)
93. Melawat Ke Barat - Djamaluddin Adinegoro (1927-1929)
94. Perjalanan Keliling Indonesia - Gerson Poyk (1970-1980-an)
95. Koran "Medan Prijaji" (1907-1912)
96. Kisah-Kisah Jakarta - Rosihan Anwar (1977)
97. Catatan Di Sumatera - Muhammad Radjab (1949)
98. Atlas Semesta Dunia - Djamaluddin Adinegoro dan Adam Bachtiar (1952)
99. Ensiklopedi Indonesia - Pemimpin Redaksi: TSG Mulia dan KAH Hidding (1955)
100. Kamus Umum Bahasa Indonesia - WJS Poerwadarminta (1952)
(ditambahkan pada 30 Mei 2008 11:35 AM; penulisan beberapa judul buku/tulisan disesuaikan dengan ejaan yang berlaku sekarang)

Wednesday, May 14, 2008

DailyLit: Read books by email and RSS

Di era internet ini ketika kita kebanjiran informasi, rasanya kita jadi tidak punya waktu untuk membaca buku ya? (x_x). Untunglah ada DailyLit yang memanfaatkan fasilitas email atau RSS agar kita sempat membaca buku terutama buku-buku yang sudah masuk dalam public domain. Sebagian besar buku (700 judul lebih) bisa dibaca gratis dan sebagian kecil lainnya berbayar. Ada "Anna Karenina" dan "War and Peace"-nya Tolstoy, ada yang dari Nikolai Gogol, juga ada Bible dan terjemahan Al-Quran, beberapa buku berbahasa non-Inggris, dan masih banyak lagi, dan katanya koleksinya masih akan terus ditambah.

Cara berlangganannya sangat mudah dan bisa diatur apakah mau lewat email atau RSS. Kapan mau di-update juga bisa diatur; apakah mau setiap hari, pada hari kerja, atau hari-hari tertentu saja (Senin, Rabu, Jumat). Bahkan jam di-update pun bisa diatur!

Membaca buku lewat RSS ini pernah saya lakukan untuk "The Notebooks of Leonarda Da Vinci" (bukan dari DailyLit, tetapi dari sini), meskipun sekarang sedang terputus akibat saya mengganti komputer. X(..)

Kembali ke DailyLit, saya menjajalnya dengan berlangganan "The Autobiography of Benjamin Franklin" lewat RSS. Kalau Anda, buku apa yang Anda pilih?

Sunday, May 11, 2008

Palestina Membara (d/h Palestina 1 - 2) Duka Orang-Orang Terusir




Judul asli: Palestine
Karya: Joe Sacco
Pengantar: Edward Said dan Goenawan Mohamad--pada edisi Indonesia--
Penerjemah: Ary Nilandari
Penyunting naskah: Salman Faridi
Desain sampul: Andi Yudha A.
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan I, Maret 2008 (d/h Cetakan I, November 2003)

Novel grafis Palestina Membara (1 jilid) pada tahun 2003 pernah diterbitkan sebagai Palestina 1 dan Palestina 2 (2 jilid). Kami terkecoh, menyangka buku baru, ternyata kami sudah punya buku ini. Hanya saja, buku ini dulu diterbitkan dalam 2 jilid, sekarang dalam 1 jilid.

Di dalam Palestina Membara (d/h Palestina), Joe Sacco menceritakan perjalanannya berkunjung ke kamp-kamp pengungsi Palestina, melihat apa yang terjadi dan suasana keseharian di sana. Dia mewawancara orang-orang; tidak hanya menanyakan pengalaman dan keseharian mereka, tetapi juga menanyakan perasaan dan menangkap ekspresi wajah dan tubuh mereka. Dan Joe Sacco memiliki kelebihan lain: dia juga bercerita melalui gambar.

Wow, bercerita lewat kata-kata saja sudah sulit, ditambah bercerita lewat gambar. Format gambarnya pun bermacam-macam: seperti komik biasa (satu halaman dibagi dalam beberapa kotak), gambar satu halaman penuh, atau seperti majalah dengan kolom-kolom yang dilengkapi gambar. Jadinya sangat padat dan informatif, padahal sebagian besar isinya adalah penderitaan orang-orang Palestina.

Alkisah, di dalam Joshua 1 : 3 termuat sebagai berikut:
Setiap tempat yang dilangkahi telapak kakimu telah kuberikan kepadamu seperti yang kujanjikan kepada Musa. Dari padang liar dan Lebanon ini hingga sungai Euphrates, seluruh tanah Hitit sampai ...


Pada tahun 1917, Lord Balfour dari Inggris menandatangani deklarasi dan para zionis memperoleh komitmen Inggris untuk sebuah negeri di Palestina untuk kaum Yahudi. "Negeri tanpa rakyat untuk rakyat tanpa negeri" (halaman 12). Tapi benarkah demikian? Pada tahun 1917 banyak orang Arab tinggal di Palestina. Ketika itu perbandingan Arab dan Yahudi adalah 10 banding 1.

Pengusiran warga Palestina ternyata sudah menjadi gagasan pada akhir 1800-an sejak Theodor Herzl merumuskan Zionisme modern. "Kita harus memindahkan secara diam-diam populasi miskin itu [sic] ke luar perbatasan dengan menciptakan pekerjaan untuknya di negara-negara transit, sementara melarangnya bekerja di negara kita sendiri."

Menurut Perdana Menteri pertama Israel, David Ben-Gurion, orang Palestina "sama nyamannya apakah dia di Yordania, Lebanon, atau tempat-tempat lain". Bagi Ben-Gurion tidak ada "pemindahan diam-diam", yang ada adalah "serangan telak yang mengakibatkan kehancuran rumah-rumah dan pengusiran populasi". "Warga Palestina hanya punya satu peran lagi... untuk lari."

Setelah tahun 1948, Perdana Menteri Golda Meier menganggap, "Seolah-olah ada orang-orang Palestina yang menganggap diri mereka warga Palestina dan kami datang lalu mendepak mereka keluar dan mengambil negeri mereka. Tidak begitu. Mereka tidak ada." (halaman 42)

Mereka tidak ada? Selama dan setelah perang tahun 1948 nyaris 400 desa Palestina dihancurkan Israel. Rumah dan tanah orang Palestina dinyatakan "ditinggalkan" atau "tidak diolah" dan diambil alih untuk permukiman Yahudi.

Dan datanglah Joe Sacco, yang kemudian bercerita dan menggambarkan untuk kita tentang orang-orang Palestina: mereka yang lari pada tahun 1948, mereka yang rumah dan kebun zaitunnya dihancurkan, anak sekolah yang tertembak, orang-orang yang bekerja di Israel yang harus memiliki beberapa macam izin, orang-orang pengangguran, anak muda yang beberapa kali ditembak, orang-orang yang pernah dipenjara (menjadikan mereka yang belum pernah dipenjara merasa malu), peraturan berusaha yang sangat merugikan orang-orang Palestina, listrik yang mati, distribusi air yang disengaja agar orang Palestina mendapat air yang asin, suami-istri yang terpisah karena tidak mendapat izin (Israel) untuk keluar atau masuk Palestina, anak yang sedang berteduh dari hujan dan diusir oleh tentara karena tentara-tentara itulah yang akan berteduh dan anak itu yang harus berhujan-hujan, dan lain-lain, dan sebagainya.

Tidak hanya itu, Joe Sacco juga bercerita tentang bagaimna orang Palestina menerima dan menjamu tamu: suguhan teh atau kopi, hidangan-hidangan makan malam, orang Palestina yang mempersilakan Joe Sacco tidur di tempat tidur sedangkan pemilik rumah tidur di lantai yang dingin. Bahkan ada pemilik rumah yang menawarkan baju dalamnya ketika tahu Joe Sacco tidak membawa ganti.

Setelah 60 tahun berlalu dari perang 1948, 41 tahun dari perang tahun 1967, 21 tahun dari Intifada, nasib orang Palestina tidak membaik, kalau tidak dikatakan semakin memburuk. Banyak orang Palestina bertanya ke Joe Sacco, bahwa sudah banyak jurnalis yang datang, mewawancara dan membuat foto-foto, tetapi apa gunanya bagi orang Palestina?

Paling tidak, dengan adanya komik karya Joe Sacco ini, pembaca seperti ikut berada di jalan-jalan berlumpur kamp-kamp pengungsi, memasuki rumah dan merasakan keramahan keluarga Palestina di balik tekanan hidup yang mereka hadapi, tertawa mendengar pertanyaan anak-anak. Meskipun kita tidak bisa merasakan duka, kepedihan, kegusaran, dan kegeraman mereka (bayangan kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengalaman nyata mereka), novel grafis Palestina mengingatkan kita untuk menyertakan orang-orang Palestina (dan bangsa-bangsa teraniaya lainnya) dalam doa-doa kita.